Bandung Tolak Penilaian Adipura

38

PEMERINTAH Kota Bandung berencana menolak diikutsertakan pada penialain Adipura tahun ini. Penolakan itu disampaikan Walikota Bandung melalui surat yang dialamatkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. ”Sambil terus melakukan perbaikan TPA Regional Sarimukti dan penguatan komponen lainnya, maka untuk sementara waktu, Kota Bandung tidak akan mengikuti penilaian Adipura atau tidak dinilai.” Itulah sebagian isi surat yang ditandatangani Walikota Bandyungf, Oded M.Danial itu.

     Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandunhg, Salman Fauzi, surat tersebut belum dikirimkan ke Kementrain LHK, tetapi isinya sudah diketahui secara meluas. Media massa di Bandung hampir semuanya sudah mengetahui bahkan memuatnya sebagai berita.  Gubernur Jabar pun sudah menyimaknya dan berkomentar. ”Ketika saya masih jadi Walikota, saya meminta bantuan tentara bersama-sama membersihkan Sarimukti,” kata M. Ridwan Kamil atau  Kang Emil. ”Yang bertanggung jawab atas TPA Sarimukti itu bukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tetapi  daerah yang menggunakannya. Jadi silakan saja mau ikut atau tidak.”

      Kepala Dinas KLH Kota Bandung beranggapan, TPA Sarimuikti merupakan TPA di bawah tanggung jawab Provinsi. Selama TPA itu menjadi salah satu komponen penilaian, Kota Bandung pesimistis akan menadapat piala Adipura. Sarimukti bukan TPA Kota Bandung saja, tuturnya.

Salman Fauzi menjelaskan, sekarang Pemkot Bandung fokus pada penanganan internal berupa gerakan masyatrakat dan inovasi pengelolaan sampah.

       Kepala Dinas KLH Provinsi Jawa Barat  mengimbau, semua daerah tetap ikut serta dalam penilaian Adipura terlepas dari  ditetapkannya Sarimuktri sebagai salah satu kompnen penilaian atau tidak. Imbauan Kepala Dinas KLH Prov. Jabar itu pada dasarnya sejalan dengan keinginan sebagian warga Bandung. Mereka berharap, surat penolakan itu tidak jadi dikirimkan ke Kementerianm KLH. Bahwa Kota Bandung tidak mendapat Adipura tahun ini, hendaknya ditetrima sebagai sesuatu yang lumrah, ada kalanya dapat, ada kalanya tidak. Piala Adipura itu bukan tujuan  atau target penanganan kota. Pemkot dan warga kota, secara bersinergi menata Kota Bandung menjadi kota yang bersih, sehat, indah, dan nyaman. Itulah target utama Pemkot dan warganya.

       TPA Sarimukti yang menjadi biang kerok, lepasnya Adipura tahun ini, justru harus menjadi dorongan bagi Pemkot Bandung, sering kali melakukan pertemuan antarkota/daerah pengguna Sarimukti. Silakan duduk bersama mencari solusi penangnanan TPA itu. Walikota Bandung, Cimahi, Bupati Bandung, dan KBB memantapkan sinergitas menyelesaikan masalah sampah.  Alangkah uindahnya aopabila pada waktu-waktu tertentu keempat pejabat daeeah itu berkum,pul di Sarimukti, melihat langsung pengelolaan sampah di TPA terluas setelah Bantargebang itu. Keempat daerah pengguna Sarimukti jangan penah merasa bersaing dalam meraih Adipura. Perlu ditekankan sekali lagi, Adipura bukan target pentaan kota. Adipura merupakan penghargaan pemerintah pusat atas kerja keras para pemimpin daerah kota/kabupaten.

       Sama seperti TPA Bantargebang di Beklasi yang menampung sampah DKI Jakarta, Sarimukti juga harus menjadi tempat pembuangan sampah dari empat daerah.  Karenja sistem pengelolaan sampah di sana masih konvensioanl, masalahnya juga terus berlangsung dari waktu ke waktu. Nyaris tidak pernah selesai. Diinisiasi Pemprov Jabar, pengelolaan sampah berbasis teknologi harus segera diwujudkan. Bila masalah TPA sudah terjawab, Adipura bagi kempat daerah pemgguina TPA Sarimukti tidak akan bermasalah lagi. Kota Bandungf, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat dipastikan mampu bersaing dengan kota lain. Namun ada atau tidak ada Adipura,  kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan warga harus menjadi tujuan utama penataan kota dan kabupaten ***