Tol Bandung-Banjar Dan Tol Cianjur-Bandung

42

JALAN Tol Bandung – Banjar yang meliputi Gedebage-Garut-Tasikmalaya-Banjar, sampai Cilacap, akan ditenderkan Mei-Juni tahun ini. Kemnterian :PUPR tengah melakukan pemetaan untuk menentukan lintasan. Hasil pemetaan itu akan diserahkan kepada Gubernur Jabar untuk ditindaklanjuti. Dalam waktu bersamaan, rencana pembangunan Jalan Tol Cianjur-Bandung, meliputi Cianjur selatan dan timur itu direncanakan mulai dibangun tahuin ini juga.

     Kementeran PUPR terlebih dahulu akan menetapkan lokasi. Baru kemudian Pemda Provinsi  Jabar  melakukan pembebasan lahan. Karena rencana jalan tol itu melalui jalur selatan Jabar, diprediksi pembebasan lahan tidak terlalu sulit. Pembebasan lahan di jalur perkotaan biasanya mengalami kendala. Negosioasi antara panitia pembebasan lahan dengan pemilik lahan biasanya agak alot. Hal itulah yang selalu menjadi hambatan penggarapan jalan tol atau infrastruktur lainnya.

      Hal itu terjadi di jalur Jalan Tol Cisumdawu. Masa pengerjaan menjadi molor karena ada sebagain lahan yang belum tuntas dalam pembebasannya. Proyek jalan tol yang mengghubungkan Bandung-Dawuan, Majalengka itu sudah digarap dua tahun lebih. Tetapi sampai hari in, masih belum rampung, terutama di Seksi 1. Itu pulalah yang dikhawatirkan pemerintah dan masyarakat. Pada satu sisi masyarakat menginginkan jalan tol itu segera selesai, pada sisi lain, pembebasan lahan masih menyisakan masalah.

        Setiap pembangunan indrastruktur selalu menimbulkan masalah sosial. Pembangunan Jalan Tol Bandung-Banjar diprediksi akan berhadapan dengan masyarakat yang takut usahanya hancur akibat terbangunnya jalan tol. Masyarakat Cianjur sampai Padaranag, merasa khawatir jalan tiol itu akan melewati jalur ekonomi masyarakat dari Ciranjang sampai Padalarang Selama ini sepanjang jalan arteri Ciranjang-Padalarang menjadi jalur perdagangan masyarakat. Banyak sekali rumah makan, restoran, pedagang oleh-oleh, kerajinan, dan sebagainya. Dagangan mereka laku karena sangat banyak pengguna jalan itu yang mencari oleh-oleh di sepanjang jalan itu, terutama di sepanjang Cipapat, Rajamandala, Padalarang  (Gunung Masigit).

          Benar, dengan adanya jalan tol,mobilitas  penduduk dan barang semakin cepat. Kemacetan yang selelu terjadi di Gunung Masigit hingga Padalarang akan terurai. Namun konsekuensinya, ekonomi rakyat di sepanjang jalan itu akan lesu. Sebaliknya, pemerintah, justru memprediksi perekonomian di jalur selatan Jabar akan berkembang pesat dengan adanya jalan tol tersebut. Destinasi wisata di sepanjang Jabar Selatan akan semakin mudah terjangkau oleh para turis.

          Kita tidak tahu apa yang akan terjadi  setelah jalan tol itu terealisasi. Namun pemerintah, dalam hal ini Kementerian PUPR sudah mulai melakukan pemetaan. Anggarannya juga sudah tersedia. Kementerian sudah menganggarkan Rp 40 triliun untuk pembangunan jalan dan jembatan. Dengan sistem lelang investasi, biaya pembanguinan jalan tol di Jabar itu akan masuk dari para ionvestor.. Banyak investor yang tertarik dengan pembangunan infrastruktur di P. Jawa.

           Kepala  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Cianjur mengatakan, pembangunan Jalan Tol Cianjur-Bandung itu baru sampai pada penyusunan  detail engineering desighn (DED). Jalan tol itu akan terkoneksi dengan Jalan Tol Bogor-Sukabumi ke arah barat. Sedangkan ke arah timur akan terkoneksi dengan Jalan Tol Ciranjang-Bandung masuk ke Cipularang.

           Masyarakat Cianjur berrharap, pembangunan jalan tol itu tidak justru mematikan Cianjur sebagai kota transit. Sebaliknya, justru pembanguinan jalan tol, itu akan menjadikan Cianjur dan sekitarnya menjadi kota tujuan, bukan sekadar trnasto. ***