Nasi Penggel Dibungkus Daun Pisang Menyerupai Bola Pingpong

23

Namanya nasi Penggel,sekilas tidak ada yang menarik dari sajian untuk sarapan pagi yang satu ini,  bentuknya seperti bola pingpong. Karenanya diberi nama Penggel yang artinya bulat. Sepincuknya berisi antara 7-10 bulatan nasi. Nasi Penggel biasa dibungkus menggunakan daun pisang (dipincuk-red).

Bulatan nasi Penggel ini diletakkan dalam bakul yang ditata berlapis-lapis. Setiap lapisan nasi Penggel  dipisahkan dengan lembaran daun pisang. Jika berada di Kebumen pagi hari, adalah sebuah keniscayaan untuk mengecap rasa khas  kuliner Kebumen yang  hanya tersedia pada pagi hari. Nasi yang diambil pembeli lalu disodorkan kepada penjualnya untuk dilengkapi menu berupa sayur dan lauk.

Sayur ini tidak jauh berbeda dengan sayur lodeh santan berbumbu gurih sederhana yang dicampur ‘gori’ atau nangka muda, daun singkong, tempe, tahu dan melinjo atau bisa pilih tambahan lauknya berupa  kikil , jeroan sapi , tetelan , jantung, ginjal, paru dan lainnya di antaranya tempe mendoan. Cukup nikmat untuk sarapan pagi.

Menyantap nasi Penggel menjadi unik dan khas karena menyantapnya menggunakan sendok dari daun pisang. Walau umumnya pembeli  banyak menggunakan sendok alumunium yang dinilai lebih praktis tanpa mengurangi kenikmatannya. Sebelum disantap , nasi Penggel  berbentuk  bulat, tetapi sesudah diberi kuah sayur dan lauk , nasi perlahan  menjadi seperti nasi yang disajikan pada umumnya , tapi rasa nasi  terasa lebih gurih. Ketika membentuk bulatan nasi, para penjual mengolesi tangannya dengan ‘lengo gurih’ alias minyak kelapa. Dukuh Gunungsari, Desa Karangpoh, Kec. Pejagoan, dikenal sebagai asal muasal penjual nasi Penggel. Selain di Tembana, masyarakat Gunungsari juga menjual nasi Penggel di beberapa lokasi di Kota Kebumen, seperti di Pasar Mertokondo dan Alun-alun Kebumen.

Nasi Penggel  paling nikmat bisa ditemukan  di Dukuh Gunungsari, Desa Pejagoan, Kec. Pejagoan, Kebumen.  Dari Alun-alun Kebumenh menuju Jembatan Luk ulo Tembana (ke utara lalu belok kiri dan  lurus dari perempatan Pasar Mertokondo). Tak jauh dari jembatan, terdapat pertigaan dan beloklah ke kiri. Di situ merupakan kawasan nasi Penggel yang dijajagan beberapa pedagang yang membuka usahanya mulai dari pukul 05.30 – 08.30 WIB. Saat ini rata-rata penjual nasi Penggel merupakan generasi ketiga atau keempat dari keluarganya. Resep nasi serta sayur dan lauk pauknya, mereka dapatkan secara turun temurun dari orang tuanya. Tidak  heran, walau jaman telah berubah, kuliner Kebumen ini tetap menjadi idola masyarakat. Kekayaan kuliner khas Kebumen  masih bertahan ditengah serbuan kuliner lainnya.Salah satu resep yang membuat kukiner ini bertahan ialah keinginan kuat para penerus penjual nasi Penggel dalam mempertahankan tradisi kuliner warisan leluhurnya. (E-001) ***