Yayan : Masih Defisit Indonesia Tetap Pengimpor Beras

67

BISNIS BANDUNG – Tahun 2018 Jawa Timur memiliki produktivitas padi tertinggi, sebesar 10,54 juta ton, diikuti Jawa Barat 9,54 juta ton dan Jawa Tengah 9,51 juta ton. Di prediksi konsumsi beras hingga Desember 2018 mencapai 29,56 juta ton dengan estimasi surplus sebesar 2.85 juta ton  dihitung berdasarkan fluktuasi produksi beras rata-rata perbulan 2.7 juta ton dengan tingkat konsumsi perbulan  2.46 juta ton. Namun posisi neraca beras Indonesia masih defisit, hingga membutuhkan impor.

Pengamat Ekonomi dari Departement Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, Ph.D mengemukakan, merujuk pada data produksi beras tahun 2018 sumber, datanya masih relatif “debatable”, karena data BPS dengan Kementerian Pertanian tidak sama.

        Berdasar data Badan Pusat Statistik pada bulan Oktober 2018, total produksi padi tahun 2018 sekira 56,54 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), jika dikonversikan setara dengan 34,42 juta ton beras. Perhitungan ini merupakan hasil revisi metodologi hasil kerjasama antara BPPT, Badan Informasi Geospasial, LAPAN dan BPS. Dikemukakan Yayan, stock beras per- tanggal 1 Januari 2019 di gudang Bulog terdapat sekira 2.1 juta ton, jumlah ini jika dibandingkan dengan data konsumsi pada Januari 2018 sebesar 2.51 juta ton dengan stok di gudang Bulog sebanyak 2.1 juta dan produksi lokal 1.55 juta ton, jumlah persediaan beras relatif aman, sebanyak 3.65 juta ton. ”Masih ada surplus kurang lebih 1.1 juta ton sampai dengan bulan Februari 2019 menjelang panen raya,” ujar Yayan.

        Dikemukakan Yayan, jika dibandingkan dengan data Kementan yang digunakan oleh FAO-OECD Outlook 2018-2027, produksi beras Indonesia tahun 2018 mencapai 47,934 juta ton, dikonsumsi 48 juta ton. Namun dibalik itu sampai sejauh ini perbedaan data masih menjadi debatable seberapa besar produksi beras Indonesia tahun 2018. Jika menggunakan data ini, posisi neraca beras Indonesia masih  defisit dan membutuhkan impor tidak kurang dari 360.000 ton. Walau produksinya mengalami kenaikan dari 46.5 juta ton beras pada tahun 2017 menjadi 47.9 juta ton beras pada tahun 2018. Tapi disisi lain, konsumsi beras mengalami peningkatan dari 47 juta ton pada tahun 2017 menjadi 48 juta ton pada tahun 2018. Menurut BPS, produksi beras bulanan sangat fluktuatif tergantung pada musim, berdasarkan data tahun 2018, posisi neraca beras mengalami defisit antara bulan Oktober, November, Desember dan Januari, total 4.5 juta ton, dan meningkat saat terjadi panen raya. Jika kita membandingkan antara posisi defisit dengan surplus, lanjut Yayan, defisit beras sebesar 60% , masih rentan terhadap posisi cadangan beras yang akan mendorong dibukanya keran impor.”Karena sistem stok beras kita masih tidak baik,” ungkap Yayan, baru-baru ini menegaskan mengenai celah yang mendorong impor beras.

        Menurut Yayan Satyakti, sistem ketahanan pangan kita, seharusnya memasukkan sistem supply chain yang terkendali dan sistem logistik yang mumpuni. Cadangan beras harus terhitung pasti, berapa stok beras di gudang di setiap daerah. Pengamat ekonomi spesialis perdagangan internasional ini menambahkan, jika melihat pada FAO-OECD Outlook 2018 – 2027, prospek sektor beras Indonesia diperkirakan akan tetap melakukan impor, walaupun stok diperkirakan akan meningkat. Pemerintah menargetkan produksi beras pada tahun 2019 sebesar 46 juta ton beras. Walau produksi beras meningkat 3% pada tahun 2018 dengan pertumbuhan konsumsi 2% selama periode yang sama. “Indonesia akan tetap impor beras, karena tingkat konsumsinya terus meningkat. Kita mengimpor dari Vietnam, Thailand, Pakistan, India dan Myanmar,” pungkas Yayan kepada BB di Bandung.  (E-018)***