Google Tolak Banyak Aplikasi Masuk ke Play Store

28

GOOGLE mempublikasikan data baru mengenai upayanya memperkuat keamanan untuk para pengguna Android. Perusahaan membuktikannya dengan memperketat penyaringan terhadap aplikasi-aplikasi yang akan masuk ke Play Store.

Dilansir Softpedia, Minggu (15/2/2019), mengutip data baru itu, Google pada tahun lalu menolak 55 persen lebih banyak aplikasi untuk masuk ke Play Store dibandingkan 2017. Sementara penangguhan aplikasi naik tidak kurang dari 66 persen.

Seluruh aplikasi tersebut dinilai berbahaya, sehingga bisa memicu aktivitas berbahaya termasuk adware dan mengumpulkan data pengguna.

Diungkapkan Product Manager Google Play, Andrew Ahn, peningkatan penolakan dan penangguhan aplikasi ini merupakan bentuk upaya berkelanjutan untuk memperkuat kebijakan, dan mengurangi jumlah aplikasi berbahaya di Play Store.

“Ini juga merupakan investasi kami dalam perlindungan secara otomatis dan proses ulasan manusia yang memainkan peran penting untuk mengidentifikasi dan menindak aplikasi-aplikasi buruk,” ungkap Product Manager Google Play, Andrew Ahn.

Kantor Baru Google di Berlin

Seorang karyawan terlihat pada hari pembukaan kantor baru raksasa mesin pencari internet, Google, di Berlin, Selasa (22/1). Google kembali membuka kantor cabang yang baru di ibu kota Jerman tersebut.

Ahn menjelaskan, Google tidak hanya bekerja keras mencegah berbagai aplikasi berbahaya mencapai Google Play Store.

Perusahaan juga berusaha memastikan bahwa aplikasi-aplikasi yang disarankan untuk diunduh tidak menerima pembaruan, atau perubahan fitur secara spesifik yang berbahaya.

Alhasil, katanya, Google Play Protect memindai tidak kurang dari 50 miliar aplikasi Android setiap hari.

Google pun berjanji akan melanjutkan fokusnya terhadap privasi pengguna pada 2019 dengan sejumlah kebijakan baru yang akan diumumkan dalam beberapa bulan ke depan.

“Pada Oktober 2018, kami mengumumkan kebijakan baru yang memperketat penggunaan izin SMS dan Call Log untuk membatasi kasus-kasus seperti sebuah aplikasi dipilih menjadi aplikasi bawaan pengguna untuk membuat panggilan atau mengirim pesan teks,” jelas Ahn.

Berdasarkan data Google, 80 persen aplikasi berbahaya dikembangkan oleh pelanggar berulang dan jaringan developer nakal.

Raksasa mesin pencari itu pun berkomitmen akan lebih memperhatian kategori-kategori aplikasi bermasalah tersebut. (c-003/Jek)***