Ada “Dilan Corner”  di Taman Saparua

52

BISNIS BANDUNG- Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil dan para pemain Film Dilan 1991 meresmikan peletakan batu pertama untuk pembuatan Sudut Dilan dalam Perayaan `Hari Dilan` di Taman Saparua Kota Bandung, Ahad (24/2).

“Ya, taman literasi ini adalah semangat yang kita hadirkan karena film ini sukses, ada sastra dan novel. Mudah-mudahan ingat pesan saya literasi dan film,” katanya.

Pria yang akrab disapa Kang Emil menyebutkan proyek tersebut adalah program pemerintah yang ia proyeksikan akan selesai akhir tahun ini.

“Tepatnya nanti ada memorabilia, ada tempat-tempat meja, tempat baca buku, termasuk nanti ada perpustakaan. Di sudut sana ada bangunan isinya buku-buku terpilih dibaca di ruang sini,” katanya.

Selain itu hadir pula Menteri Pariwisata, Arief Yahya yang turut meresmikan tempat tersebut yang berfungsi sebagai wahana literasi.

Ia menganggap novel karya Pidi Baiq ini bisa berdampak besar pada sektor pariwisata.

“Film new Zealand, Bali, Ubud naik ketika film imperial Julia Robert, saya harapkan film-film ini akan mendatangkan wisata. Saya yakin di nasional akan banyak dikunjungi oleh para wisatawan,” katanya.

Pemeran utama film tersebut, Iqbaal Ramadhan mengatakan, cukup bangga terkait filmnya ini diapresiasi oleh Menteri dan juga Gubernur Jabar.

“Setelah Dilan Corner ini selesai dibangun, masyarakat Bandung milenial fans Dilan ke sini, baca buku, mungkin nulis buku akhirnya seperti Ayah Pidi Baiq,” katanya.

lebay

Pembangunan Dilan Corner atau Sudut Dilan yang digagas Gubernur Jabar Ridwan Kamil mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Pembangunan ‘monumen’ untuk sebuah film di area GOR Saparua, Kota Bandung itu dinilai berlebihan dan tidak ada korelasi dengan budaya Jawa Barat.

“Saya enggak mengerti kebijakan apa bangun Pojok Dilan itu. Saya tidak menemukan alasan, menemukan momentum, mengapa harus dibangun Pojok Dilan itu,” kata pengamat komunikasi politik UPI Karim Suryadi.

Karim mengaku tidak faham pesan apa yang ingin disampaikan Ridwan Kamil dengan membangun ‘monumen’ tersebut. Tidak bermaksud merendahkan film Dilan, tapi dia tidak melihat korelasi cerita film itu dengan konteks Jawa Barat.

“Setahu saya Dilan isi ceritanya hanya pertemanan remaja biasa. Apakah secara kasat mata pesannya itu menghentikan Dilan sebagai ketua geng motor atau apa? Tapi menurut saya terlalu berlebihan kalau sampai dibangun Pojok Dilan,” ucapnya.(B-002)***