Ketahanan Pangan; Rasio Produksi dan Konsumsi Jomplang.

70

BISNIS BANDUNG — Pengamat ekonomi perdagangan internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, Ph.D mengungkapkan, kasus ketahanan pangan di Indonesia terbesar terjadi pada impor komoditas jagung. Padahal ketahanan pangan yang kerap terjadi setiap tahun adalah beras, gula pasir, daging sapi, kedelai dan garam. Beberapa bulan ke depan menjelang bulan Ramadhan  masalah klasik yang dihadapi adalah mahalnya harga daging.

Menurut Yayan, untuk mengamankan pasokan pangan pada tahun 2019 Kementerian Pertanian berencana  mengimpor daging sapi sebanyak 256.000 ton dari perkiraan kebutuhan daging sapi nasional pada tahun 2019 sekitar 686 .000 ton. Jumlah tersebut meningkat 4% dari tahun 2018 sebanyak 662,54.000 ton. Sejak tahun 2013 – 2016 kebutuhan daging sapi nasional berada dikisaran antara 552.000 ton sampai 635.000 ton.

Dikemukakan Yayan, jika dibandingkan dengan stok produksi, kemampuan produksi nasional  periode 2013-208 mengalami penurunan dari 504.000 ton menjadi 496.000 ton. Peningkatan  siginifikan hanya terjadi di tahun 2016 sebesar 518 .000 ton. Sejak tahun 2016 total kebutuhan domestik melonjak secara signifikan sekira 14% dari 556 .000 ton pada tahun 2015 menjadi 635.000 ton. ”Kesenjangan antara produksi dan konsumsi terus meningkat dari 18% pada tahun 2016  menjadi 25,09% pada tahun 2018. Berdasarkan  estimasi  Kementan pada tahun 2019 akan  meningkat 37%,” ungkap Yayan  pekan ini  kepada BB  di Bandung.

Yayan Satyakti menyebutkan, rasio kekurangan produksi dan konsumsi , terletak pada  selisih antara  produksi  dengan jumlah konsumsi. Rasio ini menunjukkan seberapa besar Indonesia kekurangan produksi terhadap total konsumsi. Jika nilai rasio ini semakin tinggi, Indonesia akan semakin tergantung pada impor. Semakin besar ketergantungan Indonesia terhadap impor, lanjut Yayan,  mengindikasikan Indonesia memiliki masalah dalam produksi. Permasalahan ini disebabkan tingginya biaya pemeliharaan sapi, karena sapi di Indonesia dipasok dari peternak skala UMKM.

Dengan skala tersebut, biaya peternakan lebih tinggi dibanding dengan sistem skala besar. Oleh sebab itu, perlu keseriusan pemerintah untuk membuka investasi peternakan skala besar yang dapat menekan ongkos pemeliharaan ternak sapi. “Walaupun saat ini, harga impor dapat memberikan stabilisasi pasokan di tanah air  dengan harga lebih murah dibandingkan harga domestik. Masyarakat Indonesia akan rentan terhadap perubahan harga kurs, biaya logistik internasional dan negosiasi internasional,”tutur Yayan

Berdasar data terbaru BPS tertanggal 26 Februari 2019, impor daging sapi Indonesia pada tahun 2017 mencapai 160.000 ton. Australia menjadi negara importir terbesar yang mensuplai daging sapi ke Indonesia, mencapai 53%, disusul oleh Amerika Serikat  9%, Selandia Baru  8.5%, sisanya sekira  29,3% dari Jepang, Malaysia dan Singapura. Harga  daging sapi impor/kg, selama periode 2013 – 2018, rata-rata  US$ 4.2 – 4.5/kg. Untuk harga daging sapi berdasarkan harga pasar di Australia dan Selandia Baru pada bulan Januari sebesar US$ 4.2/kg. Jika kita konversikan dengan 1US$ = Rp14.000,00 maka harganya Rp 58.800,00/kg. ”Dan jika kita bandingkan lagi  dengan harga pasar, pedagang eceran menjual daging sapi  antara  Rp115.000,00 – Rp125.000,00,” pungkas Yayan. (E-018)***