Jason Ranti Lolos Dihadapan Pengadilan Musik Awal Tahun 2019

58

Musisi satu ini, sempat tergabung dengan grup band  Stairway to Zinna sebagai gitaris , dan akhirnya  memutuskan untuk bersolo karir. Jason , pria kelahiran Tangerang Selatan 22 Oktober 1984  lulusan Universitas Atmajaya jurusan Psikologi ini, tidak mau dikenal sebagai musisi, karena dia selalu beranggapan bahwa yang selama ini dilakukan bukanlah bernyanyi, melainkan berdakwah dengan tidak membawa pesan moral.

Di satu sisi , hasil karyanya memiliki sarkasme, satir dan humor yang tidak jarang menyulut kontroversi atau bahkan membuat pendengarnya merenung, karena dirasakan yang ditulis Jason Ranti itu bermakna, meski disajikan dengan gaya yang serampangan.

Album penuh perdananya berjudul Akibat Pergaulan Blues dirilis pada tahun 2017 oleh Demajors Record. Menurut pengakuannya, awalnya materi dalam album ini diperuntukan untuk band Stairway To Zinna, sampai akhirnya atas bantuan Dado, drummer Stairway To Zinna yang sekarang  menjadi manajernya merekam beberapa lagu dan melewati masa sulit dalam perjalanan hidupnya. Album ini juga berhasil digarap lewat kerjasamanya dengan produser Junior Soemantri, hingga beberapa karya Jason Ranti sempat masuk dalam beberapa nominasi penghargaan, salah satunya nominasi untuk karya produksi folk/country/balada terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia 2017. Kemudian menginjak awal tahun 2019 ini, dia merilis sebuah video klip berjudul Pulang Ke Rahim Ibunya yang merupakan kelanjutan single dari album Akibat Pergaulan Blues yang kemudian diterjemahkan melalui visual menarik, dengan mengedepankan sosok  boneka barbie sebagai modelnya yang bernama Lisa, yang secara fiktif diambil dari isi lirik lagu Pulang Ke Rahim Ibunya. Mengingat banyak  hal menarik terkait Jason Ranti,  pada Jum’at malam 25 Januari 2019 bertempat di Kantin Nation The Panas Dalam Jalan Ambon Kota Bandung, Jason Ranti diundang dalam satu program bedah karya yang disulap menjadi format persidangan bernama Pengadilan Musik DCDC, disini Jason Ranti diadili dan harus menjawab pertanyaan tentang karya terbarunya oleh perangkat persidangan yang terdiri dari dua Jaksa Penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq.  Pembela ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung . Pengadilan dipimpin oleh Hakim ,  Man (Jasad) , jalannya persidangan  diatur oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera. Persidangan di tonton oleh kurang lebih 700 orang yang umumnya adalah Gerombolan Woyo (sebutan untuk penggemar Jason Ranti) dan masyarakat pencinta musik .

Gio “ATAP” , perwakilan dari  DCDC mengatakan,  antusiasme penonton begitu besar untuk menyaksikan Jason Ranti. Kapasitas tempat yang terlalu luas dipenuhi sampai 700 orang penonton. Bahkan ada penonton yang tidak masuk ke ruangan , mereka menikmati jalannya persidangan dari luar.

“Jason merupakan salah satu solois yang berprestasi, hadirnya dia untuk dibedah secara detil oleh jaksa agar semua coklat friends mengetahui kapasitasnya,” ujar Gio. Sementara di lain sisi, Jason memiliki lirik yang berbunyi sarkasme, satir, dan humor yang tidak jarang menyulut kontroversi atau bahkan membuat pendengarnya merenung, karena  apa yang ditulis Jason  gayanya serampangan.

Jason Ranti sebagai Musisi Balada menurutnya,  melalui lagu terbarunya  menjadi patut diapresiasi ketika musisi folk lain kebanyakan berkutat tentang bagaimana indahnya memaknai hujan di sore hari dengan ditemani secangkir kopi, tapi Jason Ranti lebih memilih untuk mengangkat satu tema yang menyatakan bahwa hidup ini tidak baik-baik saja. Pengadilan Musik juga dapat disaksikan secara langsung dengan melakukan booking passport atau melalui live streaming melalui situs DjarumCoklatDotCom (DCDC) . (E- 009)***