Ekosistemnya Terganggu; Laguna Segara Anakan Mengkhawatirkan

56

Segara Anakan merupakan Laguna di antara Pulau Jawa dan Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Kawasan Segara Anakan merupakan tempat bertemunya tiga sungai besar, yakni Sungai Citanduy, Sungai Cibereum dan Sungai Cikonde serta sungai-sungai kecil.

Kawasan ini juga menjadi penghubung pergerakan ekonomi dan sarana transportasi air masyarakat dari Cilacap menuju Pangandaran. Laguna dalam istilah geografi adalah perairan yang hampir seluruh wilayahnya dikelilingi daratan dan hanya menyisakan sedikit celah yang berhubungan dengan laut. Segara Anakan merupakan kawasan perairan yang unik, karena didominasi hamparan hutan bakau (mangrove) yang sangat luas. Tempat ini merupakan salah satu laboratorium alam bagi para peneliti dalam dan luar negeri dari berbagai disiplin ilmu seperti biologi, geologi, fisika, sosial, ekonomi, budaya dan hukum.

Ditinjau dari fungsi sosial ekonomi, ekosistem mangrove menjadi tempat berkembangbiaknya atau kehidupan ikan, udang, kepiting dan fauna lainnya, seperti burung dan aneka reptile. Laguna merupakan tempat berkembang biaknya  satwa laut  yang kemudian keluar melalui muara Laguna ke laut lepas, Samudera Hindia. Produk perikanan laut  sangat erat kaitannya dengan kelangsung  sosial ekonomi nelayan. Sebagai sarana transportasi laut antar kecamatan dan pusat-pusat keramaian di tepi barat, selatan dan timur perairan Segara Anakan, keberadaan laguna  sangat vital. Potensi lain adalah daya tarik kepariwisataannya yang kuat. Pada tahun 1980-an, di Segara Anakan terdapat 26 jenis tumbuhan mangrove dengan tiga jenis vegetasi (tumbuhan). Paling dominan adalah jenis api-api, bakau, dan cancang (bruguiera gymnonthiza) yang sering dimanfaatkan penduduk untuk bahan bangunan rumah panggung. Mangrove  merupakan ekosistem paling produktif di antara komunitas laut. Daun-daunnya yang rontok ke air dan  melapuk menjadi  makanan ikan serta tempat pemijahan berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut bernilai ekonomi.

Kawasan ini berperan besar terhadap tingginya hasil perikanan di Laguna Segara Anakan , karena disini terdapat sedikitnya 15 spesies jenis kepiting bakau, sekitar 90% dapat ditemukan dengan mudah di kawasan yang tertutup rapat tanaman mangrove. Keunikan ekosistem laguna Segara Anakan dapat dilihat dari keberadaan biota yang ada, salah satunya keberadaan ikan sidat. Ikan ini memiliki kandungan DHA hampir dua kali lipat dibanding ikan biasa. Dari 12 species ikan sidat di dunia, tujuh di antaranya berkembang di daerah ini. Badan Konservasi Segara Anakan dan Nusakambangan membagi kawasan Laguna menjadi tiga bagian, zona inti, zona transisi dan zona pemanfaatan

Tingginya potensi ekologis, sosial dan ekonomi dari Laguna Segara Anakan, tidak lepas dari permasalahan yang serius dalam lima puluh tahun terakhir, yaitu pendangkalan, penyempitan luas kawasan Laguna dan kerusakan  hutan mangrove. Laguna Segara Anakan secara berkesinambungan mengalami degradasi akibat tingkat pengendapan lumpur cukup tinggi  yang mengakibatkan terjadinya pendangkalan serta penyempitan luas. Luas perairan Laguna Segara Anakan tahun 1903 masih 6.450 ha. Tahun 1939 menjadil 6.060 ha. Jadi, dalam kurun waktu 36 tahun luas wilayah perairan Laguna yang hilang akibat sedimentasi mencapai 390 ha. Sekitar tahun 1971, luas Segara Anakan menyusut menjadi 4.290 ha. Hal ini terus berlanjut hingga pada tahun 1984, luas Laguna yang memiliki hutan mangrove terluas di Jawa menjadi 2.906 ha. Tahun 1994 atau sekitar 10 tahun kemudian, menyusut dari 1.331 ha menjadi 1.575 ha. Penyusutan kembali terjadi tahun 2005, luasnya menjadi 834 ha. Artinya, dalam kurun waktu 21 tahun, terjadi penyusutan Laguna seluas 2.072 ha atau 98,6 ha/tahun. Upaya  pelestarian Segara Anakan telah dilakukani oleh berbagai pihak , salah satu melaui pengerukan sedimen. (E-001) ***