Mandi Lumpur Sambut Gubernur

40

    SEJUMLAH warga Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabuptan Bandung, menyambut kedatangan Gubernuir Jabar, Ridwan Kamil, dengan aksi mandi lumpur.Mereka berunjuk rasa karena sudah bertahun-tahun hidup di kampung yang selalu terendam banjir ketika datang musim hujan.

Mereka ingin agar pemerintah segera mencari solusi agar mereka keluar dari penderitaan panjang itu. Menurut salah seorang pengunjuk rasa, warga Andir sudah bosan dengan kunjungan para pejabat tanpa memberikan solusi terbaik. Para pejabat yang datang hanya memberikan janji tanpa ada realisasinya.

     Bukan hanya warga Andir saja yang mengalami musibah banjir sepanjang musim itu. Warga Bojongasih, Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Cigebar dan Cijagra, Rancaoray, di Kecamatan Bojongsoang, setiap musim hujan harus mengungsi atau berdiam diri di loteng rumah. Tahun ini yang tidak lagi menderita akibat banjir itu ialah Kampung Cieunteung di Kelurahann Baleendah. Setahun ini, kampung yang selalu terendam luapan Citarum sudah tidak ada lagi. Kampung itu sudah berubah menjadi danai retensi yang pembangunannya hampir usai. Orang Cieunteung sudah menyebar, mendirikan rumah di luar kampungnya yang aman dari sergapan banjir.

     Kolam retensi yang menghabiskan biaya ratrusanm miliar itu  masih terlalu kecil untuk menampung luapan Citarum dan beberapa anak sungainya. Air yang parkir di kolam itu hanya sedikit dibanding luapan Citarum yang menampung begitu banyak air dari belasan anak sungainya. Artinya kolam retensi Cieuteun itu belum terasa manfaatnya bagi masyarakat di sempadan sungai  kawasan Baleendah, Andir, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang. Namun bukan berarrti tidak bermanfaat samasekali. Luapan Citarum yang sempat menggenangi Cijagra tidak terlalu lama. Air cepat menyusut karena mengalir ke kolam retensi dan Citarum yang mulai terbebas dari hambatan.

     Apakah warga  Andir, Bojongasih, Cijagra, Cigebar, dan sebagainya tidak mengikuti warga Cieunteung, pindah ke tempat lain yang aman?  Jawabannyua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pembebasan Cieuteung saja membutuhkan waktu delapan tahun. Masalahnya, rumah mereka tidak laku dijual padahal mereka butuh biaya pembuatan rumah di tempat lain. Pemindahan warga Cieunteung setelah pemerintah nemberi penggantian dengan harga jauh lebih mahal dibanding harga pasaran di daerah itu. Pembebasan tanah di tempat lain juga akan mengalami masalah yang sama.

     Gubernur Jabar, Ridwan Kamil ketika berkunjuing ke Kelurahan Andir yang tengah digenangi banjir, berjanji akan membuat empat danau sepetrti Danau Cieunteung. Ia mengatakan, pembangunan danau retensi merupakan salah satu solusi menghindarkan warga dari seragpan banjir. Emil yang disambut dengan unjuk rasa mandi lumpur itu meyakinkan warga tahun ini juga danaui retensi itu akan selesai dibangun. Gubernur tidak secara jelas menunjuk tempat dibuatnya danau retensi itu. Warga yang amat sering mendengar janji itu tidak secara antusias menerima kabar itu. Kalaupun dibuat danau retensi, lokasinya belum jelas, pembangunannya juiga butuh waktu panjang dengan  biaya yang sangat besar pula.

       Gubernur Jabar tidak menunjukkan lokasi pembuatan danau retensi  swaat berada di Andir tersebut. Ada dua penyebabnya. Pertama memang pembuatan danau retnsi itu belum masuk pada rencana pembangunan tahun ini. Bisa jadi baru berupa wacana, menjawab pertanyaan warga Andir. Kedua apabila lahan danau itu sudah ditunjuk sejak awal, biasanya akan terjadi kenaikan harga tanah yang tidak wajar atau munculnya para calo dan spekulan tanah.Diperkirakan, pembuatan danau itu di tepi Citarum sebelah kanan, apakah di daerah Dayeuihkolot, Bojongsoang. atau di tempat lain lebih ke hilir

       Idealnya rencana Gubernur Jabar itu dilakukan secara simultan, pembuatan danau retensi, pemindahan penduduk dari bantran Citarum ke tempat yang lebih aman. Misalnya dengan mendirikan apartemen rakyat, dan relokasi pabrik yang berada di sekitar Citarum. Kalau hanya dibangun danau retensi, masalah banjir dan kehidupan masyarakat di permukiman sepanjang tepi Ciatrum tidak akan segera terangkat. Begitu juga selama di Bandung Selatan masih berdiri pabrik, masalah pencemaran Citarum tidak akan cepat teratasi.

       Lahan bekas permukiman diubah menjadi taman atau hutan kota. Penataan Citarum yang lebar, bersih dan indah dapat terwujud.Kapan mimpi itu dapat terwujud?  Kita cuma dapat berdoa, semoga Ciatrum Haruim segera terlaksana. Kita tidak ingin menyaksikan lagi  warga yang menyampaikan aspirasinya dengan mandi lumpur. ***