Perajin Opak Buahdua; Dapat Bantuan Mesin Penumbuk Beras Ketan

46

BISNIS BANDUNG – Pusat pengrajin opak “Rika” di Desa Buahdua Kecamatan Buahdua Sumedang ,kini bisa menghemat biaya produksi dan efisiensi waktu pembuatan opak setelah memiliki  mesin penumbuk beras ketan bantuan Telkom University Bandung.

“Sebelumnya , beras ketan untuk bahan baku opak , harus kami tumbuk secara manual,” tutur Rika,  seorang pengrajin opak di Buahdua, Senin sore (04/02/2019).

Mesin penumbuk nasi ketan  diperkenalkanTelkom University  beberapa pekan lalu dan  digunakan diserahkan pihak Universitas Telkom kepada Rika , perajin sekaligus owner  “opak rika”.Dengan mesin penumbuk hibah dari Universitas Telkom, Rika mengaku proses produksi opak lebih cepat, selain dari segi biaya jadi lebih murah dan hasil tumbukan lebih lembut dibandingkan dengan cara tradisional (ditumbuk) .

Rika menjelaskan ,  untuk tehnis pengoperasian mesin untuk opak ,   ia mendapat bimbingan dari Rosad M Hadi, peneliti dari Telkom University penggagas pembuatan mesin penumbuk beras ketan . Setelah  mendapatkan penjelasan dan bimbingan, mesin tersebut diuji coba,  hasilnya bisa menghemat biaya produksi yang cukup signifikan, disamping mempercepat  pekerjaan para perajin dalam mengolah opak.
“Dalam sehari perajin opak Rika memproduksi 30 kg beras/nasi ketan untuk bahan baku opak. Sebelumnya untuk upah menumbuk yang dikerjakan secara manual Rp 50.000 dengan waktu yang dibutuhkan untuk menumbuk sekitar 4 jam, namun dengan menggunakan mesin biaya untuk  upah  bisa ditekan sampai Rp 40.000, artinya hanya dibutuhkan biaya Rp 10.000 yang dialokasikan bayar listrik , menabung dan biaya pemeliharaan mesin. Sementara waktu yang dibutuhkan untuk menumbuk hanya sekitar satu jam dari sebelumnya empat jam,” tutur Rika.
Rika menyebut , bantuan alat produksi untuk opak bantuan Telkom University , merupakan bentuk nyata kepedulian  Telkom University  membantu UMKM . Disebutkan, mesin penumbuk nasi ketan untuk pembuatan opak ini tidak dijual untuk pengrajin, namun untuk dimanfaatkan oleh perajin sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Tapi jika keberadaan mesin ini tidak dimanfaatkan atau dipakai oleh perajin opak di Buahdua , mesin  akan diambil luntuk perajin di daerah lain.

“Jadi silahkan manfaatkan mesin ini dengan sebaik baiknya, dan jika tidak dimanfaatkan akan kami ambil lagi, karena percuma disimpan kalau tidak dipakai. Satu unit mesin harganya sekitar Rp. 32 juta,” ujar Rika .(E-010) ***