Revitalisasi Pasar Tradisional; Kerap Mematikan Pedagang

60

BISNIS BANDUNG — Ketua Umum Persatuan Pedagang Pasar Tradisional dan Warung (Pesat) Usep Iskandar Wijaya mengatakan, revitalisasi pasar tradisional merupakan diksi yang tabu karena bagi pedagang mendengar kalimat tersebut sangat mengerikan.

Alangkah bijaknya jika kalimat tersebut diganti dengan renovasi atau penataan, karena revitalisasi merupakan salah satu bentuk pengusiran pedagang lama dan yang berduit tebal akan menggantikannya karena pedagang lama tidak mampu  menebus kios yang harganya melambung pasca revitalisasi. Usep mencontohkan,  Pasar Kosambi Kota Bandung, setelah direvitalisasi malah menjadi sepi, banyak kios yang kosong, selain meninggalkan persoalan yang berkepanjangan. Begitu ITC serta  Pasar Sandang Kabupaten Sumedang. Ia meyakini, kasus revitalisasi juga akan terjadi pada Pasar Cihaur Geulis Kota Bandung dan Pasar Sagala Herang Kabupaten Subang.  “Kalau dilihat, semua pasar setelah direvitalisasi mencuatkan persoalan, mesti ada kajian yang mendalam mengenai kebijakan revitalisasi pasar,”ungkap Usep kepada BB, baru-baru ini menjawab pertanyaan permasalahan revitalisasi pasar tradisional.

Berdasar data Kementerian Perdagangan,menurut Usep, pada tahun 2016 pasar tradisional yang direvitalisasi sebanyak 793 unit, tahun 2017 sebanyak 851 unit dan tahun 2018 sebanyak 1.545 unit. Sedangkan untuk tahun 2019 ini ditargetkan sebanyak 1.037 unit.

Usep berpendapat, selama ini program revitalisasi pasar, dianggap menjadi formula paling manjur untuk menjawab berbagai permasalahan sampai persoalan fisik bangun pasar yang sudah tidak layak. “Kalau mau jujur dan bertanggungjawab, kenapa kondisi fisik pasar tidak layak, karena pengelola sebagai penanggung jawab membiarkan, tidak ada perawatan, seperti disengaja dibiarkan. Revitalisasi pasar jadi solusi dan menjadi bisnis terselubung untuk mencari keuntungan dari pembangunan pasar.

”Jarang sekali revitalisasi pasar diketahui secara transparan. Ketika revitalisasi dilaksanakan banyak pihak yang di korbankan, terutama pedagang. Ukuran luas kios jadi kecil dengan harga sangat mahal, dalam hal ini siapa yang di untungkan. Pedagang  sama sekali tidak ada untungnya. Keuntungan dinikmati pengembang dan oknum pemangku kebijakan, sedangkan pedagang menjadi korban,” ujar Usep.

            Ditegaskan Usep, program revitalisasi pasar, manfaatnya hanya bangunan baru dan zonasi komoditas, tetapi dalam aspek lainnya tidak ada. Tujuan awalnya agar memasukan para pedagang informal masuk ke dalam area pasar, tapi dalam kenyataannya malah tidak teratur. ”Revitalisasi tidak sesuai harapan, walau jumlah kios bertambah, tapi ukurannya kecil dengan harga kios yang tidak terjangkau,” pungkas Usep. (E-018)***