Aida Wijaya, SE.MSi.Ak.CA. ; Menjadi Pendidik, Bagian Hidup Dari Keluarga

67

Aida Wijaya, SE.MSi.Ak.CA., lahir di Cimahi tanggal 4 Juli 1969.  Istri dari Riftan Christiana ini, kini berprofesi sebagai Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama, dan juga sebagai Kepala Biro Kerja Sama Universitas Widyatama.

Aida Wijaya mengaku bahwa, profesinya sebagai akademisi (dosen) bukanlah merupakan cita-cita awal, namun, ia memang tumbuh di lingkungan keluarga yang  mementingkan pendidikan.  Ayahnya adalah seorang guru musik.  Kakek dari ibunya adalah mantan guru.  Sejak usia 11 tahun, Aida sudah memberikan les piano dan  privat pelajaran SD. Mengajar les privat dijalaninya hingga ia kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung, jurusan akuntansi pada tahun 1988.  Pada semester ke 5 (th.1991),  Aida  mengikuti tes untuk menjadi asisten dosen mata kuliah Pengantar Akuntansi dan Akuntansi Keuangan Menengah sampai lulus kuliah, dan setelah itu ia bekerja di beberapa industri.

Pekerjaan pertama yang ditekuninya adalah, menjadi staf audit di KAP Robert Yogi pada tahun 1994.  Kemudian Aida pindah bekerja menjadi staf Follow Up Export-Import di perusahaan garment  yang mengekspor garmen merk terkemuka ke Jepang dan Amerika Serikat.  Baru bekerja 3 bulan, Aida Wijaya kemudian ditawari untuk menjadi staf auditor di Prasetio Utomo & Co, yang merupakan afiliasi dari Arthur Andersen.  Saat itu, setahun sebelum krisis moneter melanda, sebagai staf di KAP yang mengaudit perusahaan go publik, Aida mengetahui betul, bagaimana banyak industri di Indonesia yang sangat tidak siap ketika standar akuntansi keuangan harus diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan.

Belum sempat industri beradaptasi dengan standar akuntansi yang baru, krisis ekonomi melibas, seakan menunjukan contoh nyata, bagaimana terabaikannya pelaporan akuntansi keuangan yang dapat membuat ekonomi suatu negara ambruk. Pada dasarnya, kondisi tersebut adalah pengulangan sejarah di Amerika Serikat ketika terjadi stock market crash pada tahun 1927, yang juga disebabkan oleh pengambilan keputusan buruk, akibat tidak adanya pelaporan keuangan yang dapat dijadikan landasan sebagai dasar analisis.

Bidang Akuntansi Keuangan mengalami banyak dinamika sejak memasuki jaman globalisasi, dan kebutuhan akan standar akuntansi internasional begitu mendesak. Indonesia termasuk negara Asia yang cukup sigap menanggapi tuntutan tersebut, sehingga  Standar Akuntansi Keuangan kita sudah mampu mengikuti International Financial Reporting Standards.  Industri yang menyadari hal tersebut berupaya untuk memahami, mempelajari dan menerapkan standar yang baru, meski cukup lama tertinggal.

Aida Wijaya juga memberi pelatihan (in-house training) di beberapa perusahaan, di antaranya adalah, di PT. Pos Indonesia dan PDAM Tirtawening pada tahun 2011, setelah wacana penerapan standar akuntansi internasional dimulai.

Sejak tahun 1997, Aida Wijaya menekuni profesi sebagai dosen hingga sekarang, yakni sudah sekitar 22 tahun.  Bidang utamanya adalah Akuntansi Keuangan.  Untuk tetap memiliki ilmu yang terkini, Aida Wijaya tidak pernah sepenuhnya lepas dari profesi praktek, yaitu dengan mengerjakan beberapa tugas audit, kompilasi laporan keuangan, maupun penyusunan sistem akuntansi perusahaan.

Pada tahun 2006, ia sempat cuti sebagai dosen dan bekerja menjadi manajer keuangan serta akuntansi di perusahaan milik ekspatriat yang berada di Ubud, Bali. Namun kemudian, Aida kembali ke kampus dan bertugas sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.  Tahun 2008,  Aida Wijaya bergabung dengan Credentio Consult, dan terakhir ia menjabat sebagai manajer audit di BDO Kantor Cabang Bandung (2015).

 Sebagai dosen, salah satu yang yang harus dilakukannya adalah pengabdian kepada masyarakat.  Fokusnya membantu UMKM dalam menjalankan bisnis, termasuk yang terkait dengan laporan keuangan.  Walaupun dari sisi keberadaan bisnis ada peningkatan, namun dari sisi administratif terkait pelaporan keuangan , UMKM relatif dengan ketidakmampuan yang tetap sama. Padahal, selama 20 tahun seharusnya terjadi peningkatan kemampuan literasi.  Dengan terjadinya pergantian generasi, yang semula tidak mampu akibat minimnya kemampuan dasar membaca dan berhitung, maka sekarang seharusnya sudah tidak demikian.

”Namun pada kenyataan yang didapat, misalnya di daerah Kabupaten Bandung, ternyata kondisinya belum berubah, hingga akhirnya semua masalah berpulang   pada pendidikan dasar,” ungkapnya kepada BB di Bandung.

Selain menjadi tenaga pengajar, pada tahun lalu Aida Wijaya sempat menjabat sebagai Kepala Biro Kemahasiswaan.  Menurutnya, kemampuan mahasiswa jaman sekarang bisa dikatakan istimewa. Banyak dari mereka yang mampu berkiprah secara nasional maupun internasional, untuk menyelenggarakan berbagai even besar.  Ini mungkin salah satu sisi baik dari terbukanya informasi dan mudahnya komunikasi dengan memanfaatkan perangkat gadget.  Namun, ada sisi kurang baiknya, yakni berkurangnya tenggang rasa yang dimiliki mahasiswa. Sehingga, mungkin sekali apa yang diperbuatnya tidak disadari bahwa itu salah, kurang sopan atau egois. Dampaknya adalah, orang tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan korupsi.  Melihat hal itu, menurut Aida Wijaya, mata pelajaran budi pekerti perlu dimasukan kedalam kurikulum pelajaran, mulai dari kelas 1 SD, untuk menghentikan degradasi moral bangsa.

Ibu dari Viankha Jesslyn dan Vinski Tania Christy ini, yang pada tahun 2019 menjadi Kepala Biro Kerja Sama mengatakan bahwa, salah satu permasalahan yang sedang tren di akademisi adalah, masalah penelitian yang harus masuk dalam jurnal bereputasi tertentu, untuk menunjang akreditasi institusi pendidikan tinggi.  Hingga banyak perguruan tinggi yang mengeluarkan sumber daya yang tidak kecil untuk mengupayakan pencapaian tersebut.

“Perguruan tinggi harus mengambil peran dalam menyampaikan hasil penelitian yang berkualitas kepada industri atau institusi pemerintah, mengenai apa yang penting dan mendesak untuk dilakukan perbaikan,” ungkap Aida.

Bagi Aida, menjadi dosen bukanlah hal yang dicita-citakan, namun menjadi pendidik  akan tetap dijalani sepanjang hidupnya oleh penganut moto hidup “Kerjakan apapun dengan maksimal agar selalu lebih baik” ini, karena menjadi pendidik sudah merupakan bagian dari hidupnya.  Dikemukakan pula oleh Aida bahwa, pekerjaan apapun akan dikerjakannya, sepanjang itu dibutuhkan. Termasuk pula dengan kemungkinan bila Aida Wijaya terjun ke ranah politik.

(E-018)***