Menyoal Ekonomi Syariah 

37

RASANYA sangat logis, manakala ekonomi berdasarkan syariah Islam di Indonesia berkembang  pesat.  Dan sejak lama  pemerintah memberikan  perhatian besar terhadap ekonomi syariah, namun kenyataanya  tidak menunjukkan progres yang menggembirakan.

Berbeda dengan negara lain seperti Malaysia, perkembangan ekonomi syariah telah terjadi lompatan. Adakah penyebab  ekonomi syariah tertinggal oleh bangsa lain, karena  kita masih setengah hati untuk mengembangkannya.

Logis  jika pemerintah  kita merasa tidak puas  atas  perkembangan ekonomi syariah yang lambat. Padahal, populasi muslim di  negeri ini  mencapai 85 persen dari total penduduk.  Benarkah persoalan ekonomi syariah bukan terletak pada sektor keuangan, melainkan sektor riil?  Artinya, permintaan di sektor ini tergolong rendah.

Banyak pihak menilai perkembangan keuangan syariah yang tidak bisa cepat setelah beberapa tahun terakhir itu kendalanya ada di sektor riilnya.  Padahal, menurut saya peningkatan permintaan tersebut bisa dilakukan dengan mengoptimalkan sektor haji dan umrah. Sektor ini dinilai memiliki potensi yang sangat besar.

Belum lagi perlengkapan calon haji dan kebutuhan lainnya  yang nota bene merupakan sektor riil yang mesti dibuka lebih luas. Setiap tahunnya, jumlah jamaah haji nasional menjadi penyumbang jamaah terbanyak secara nasional setelah Arab Saudi.

Belum lagi jemaah umroh  yang setiap saat terus meningkat yang datang buka saja dari sudut perkotaan, tetapi juga dari  perdesaan.  Indikator ini  tentunya merupakan   ekonomi syariah yang bisa menjadikan sektor riil  untuk mnumbuh kembangkan  ekonomi  syariah.  Namun, realitanya  sumbangannya terhadap ekonomi syariah masih minim.

Kalau kita lihat dari angka kita sebagai negara beragama Islam penduduknya yang beragama Islam terbesar dunia dari jumlah penduduknya yang melakukan ibadah haji dan umrah selalu tertinggi. Tapi begitu masuk ke bagian ekonomi keuangannya kita mulai tidak berada di nomor satu.

Banyak peluang yang mampu dimaksimalkan dari sektor haji dan umrah. Di antaranya meningkatkan industri koper, yang merupakan barang wajib dalam pelaksanaan haji dan umrah. Belum lagi perlengkapan  calon jemaah haji dan umroh lainnya yang banyak macamnya.

Suatu ketika  saya pernah ikut umrah dan  berbicara  dengan kelompok lain.  Ketika melihat  tas koper  yang dibawa  jamaah, saya katakan   bagus dan keren  dilihat  tampilannya. Akan  tetapi  begitu ditanya  ternyata itu buatan  Tiongkok  semua. Ini tantangan bagi kita  untuk lebih fokus  terhadap industri riil.

Sodikin, Ciateul  Bandung