Pelaku e-Commerce Akui Indonesia ‘Darurat’ Talenta Digital

46

MINIMNYA talenta digital di Indonesia bukan hanya jadi perhatian pemerintah, tapi juga pelaku bisnis e-commerce. CEO Blibli Kusumo Martanto mengakui jika Indonesia saat ini minim sumber daya manusia di ranah digital.

“Kami akui talenta digital di Indonesia masih sangat kurang. Buat kami, kami juga kesulitan, kami minta ke pak Rudi (Menkominfo) 1000 (talenta digital) boleh. Karena kami sendiri kesulitan,” aku Kusumo dalam acara talkshow #KopiTalkIndonesia, di Hotel All Season, Jakarta Pusat, Jumat (1/3).

Untuk mendorong kondisi ini, Kemenkominfo menyiapkan beasiswa pelatihan intensif digital bagi anak muda Indonesia. Ditargetkan ada 1.000 lulusan yang siap menghadapi dunia digital pada tahun lalu dan 20 ribu lulusan di tahun 2019.

Kusumo mengatakan pihaknya juga mengirimkan beberapa talenta Indonesia ke pusat pelatihan teknisi digital di Bangalore, India. Dengan begitu, talenta yang dikirimkan bisa mentransfer pengetahuan ketika kembali ke Indonesia.

“Kami juga ada kerja sama di Bangaloe dan kirim orang-orang Indonesia untuk belajar agar mereka merasakan belajar di internasional. Bawa ilmu sebanyak-banyaknya lalu ajari adik-adiknya dan itu terus kami lakukan,” imbuhnya.

Dalam pelatihan talenta digital, Kusumo mengatakan pihaknya juga menggandeng beberapa universitas di Indonesia. Ia menyebutkan pihaknya menyiapkan beasiswa bagi mahasiswa mulai dari semester 5 untuk diberikan kesempatan ke Bangalore.

“Kami memberikan intensif kita kerja sama Universitas jadi istilahnya dari mulai semester 5 ya kita pilih segala macam terus kemudian Kalau setelah mereka ini bergabung dengan kami itu kami berikan kesempatan untuk belajar bukan hanya di dalam negeri tapi juga keluar negeri,” kata Kusumo.

Kusumo mengatakan para lulusan universitas bidang teknologi informasi di Indonesia bahkan banyak yang tidak siap masuk dunia kerja. Ia menyinggung kesiapan pakai para lulusan untuk bekerja di bidang e-commerce.

“Saya bukannya mau mengkritik ya tetapi banyak sekali mahasiswa yang lulus ada ijazahnya tapi belum siap di dunia realnya. Harusnya ada pelatihan tertentu agar saat lulus bukan hanya modal ijazah tapi sudah langsung siap pakai,” ucap Kusumo. (C-003/evn)***