Ir. Moh. Jumhur Hidayat, MSi.; Panggilan Nurani Membela Kaum Terpinggirkan

394

Wakil Ketua Umum KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), Ir. Moh. Jumhur Hidayat, MSi., kelahiran Bandung 18 Pebruari 1968, mengawali kiprahnya sebagai pengurus maupun aktivis ketenagakerjaan ketika nuraninya terpanggil untuk membela kaum yang terpinggirkan, yakni ketika dirinya masih menjadi mahasiswa  ITB.

Suami dari Alia Febyani Prabandari (38) ini menceritakan, ketika pada awal tahun 1990-an terjadi tuntutan, baik dari dalam maupun luar negeri, bahwa gerakan buruh tidak boleh bernaung dalam satu wadah tunggal ( SPSI).  Saat tuntutan memuncak, pemerintah akhirnya memperbolehkan serikat pekerja untuk tidak berafiliasi ke SPSI sebagai wadah tunggal organisasi buruh.  Buruh diperbolehkan untuk bernaung pada organisasi yang bersifat  lokal di lingkungan perusahaannya saja, dengan sebutan SPTP (Serikat Pekerja Tingkat Perusahaan).

“Merespons diperbolehkannya untuk mendirikan serikat pekerja di luar SPSI inilah,  saya dan teman-teman kemudian membentuk YKPI (Yayasan Kesejahteraan Pekerja Indonesia) pada tahun 1995.  Dari YKPI inilah, saya dan teman-teman kemudian membentuk SPTP di berbagai perusahaan,” tutur Jumhur kepada BB di Bandung.

Jumhur juga mengungkapkan, untuk menjadi pengurus serikat pekerja dimanapun, tentu harus secara sukarela.  Dari aktivitas dan perjuangan yang konsisten, serta dari sosok aktivisnya sendiri, maka kemudian organisasi akan menilai  kadernya untuk  dipromosikan menjadi pengurus.  Aktivitas Jumhur  di dunia gerakan buruh sudah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun.  Sementara aktivitas di KSPSI sudah dijalani selama 4 tahun.

“Sebelumnya, saya sempat menjadi Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia,  yaitu Federasi yang bernaung di bawah KSPSI.  Saya tertarik menjadi pengurus serikat pekerja memang karena panggilan jiwa. Keunikan dalam mengurus serikat pekerja adalah, kita bisa mengetahui langsung apakah sebuah negosiasi dengan pemerintah atau pengusaha itu berhasil atau tidak,” ungkap Jumhur.

KSPSI  merupakan organisasi pekerja  terbesar di Indonesia, dengan jumlah anggota sekitar 5 juta dari berbagai  sektor industri.  Diakui oleh Jumhur bahwa, berjuang di serikat pekerja tidaklah untuk mengharapkan penghargaan.  Namun, kepuasan batinlah yang dirasakan, ketika perjuangan serikat pekerja bisa membuahkan hasil.  Serikat pekerjalah yang justru sering memberi penghargaan kepada kelompok atau perorangan, yang berjasa dalam peningkatan kesejahteraan pekerja. Dalam perjuangan buruh atau pekerja, dikenal apa yang disebut dengan ‘International Labor Solidarity’.

”Kita memiliki saudara seperjuangan di seluruh dunia. Bila dalam berjuang kita menemui masalah, maka dukungan internasional akan banyak berdatangan,” ungkap ayah dari Ahmad Moqtav Hidayat (10), Naeva Hilya Athahira Hidayat (7), Alvantarhi NV Tasymira Hidayat (4) dan Vaniaz Zahira Kania Hidayat (2) itu.

Penganut moto hidup “Berbahagialah di atas kebahagiaan orang lain” ini juga menceritakan pengalamannya selama menjadi aktivis dan pengurus KSPI.  Paling mengecewakan adalah, bila ada kader atau pengurus serikat pekeja yang bermain mata, baik dengan pengusaha maupun pemerintah, dengan mengorbankan kepentingan seluruh pekerja.

“Suatu ketika, saya pernah memberhentikan pengurus inti suatu organisasi pekerja namun bukan di KSPSI, ketika saya tahu bahwa, yang bersangkutan terbukti merangkap juga menjadi pengacara perusahaan.  Hal ini akan menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest),” ucap Jumhur.

Selain aktif dalam gerakan buruh, Moh. Jumhur Hidayat juga aktif dalam pemberdayaan pedagang kaki lima (APKLI)  dan pedagang grosir.  Aktivis ini menegaskan sikapnya bahwa, ia tidak pernah  memiliki rencana untuk berhenti berjuang dari serikat pekerja, kecuali keadaan yang mengharuskannya.

“Karena banyak manfaatnya, namun bukan manfaat untuk pribadi.  Malah kita seringkali harus mengeluarkan dana untuk perjuangan buruh.  Motivasi seseorang menjadi aktivis tidak semuanya demi untuk mendapat keuntungan pribadi. Menggeluti perjuangan rakyat kecil seperti pedagang kaki lima, petani, koperasi dan sebagainya, merupakan sebuah kepuasan batin.  Ada semacam harapan,  agar anak-anak saya juga berkecimpung dalam dunia pemberdayaan rakyat yang terpinggirkan.  Bentuknya bisa apa saja, yang sesuai dengan perkembangan zaman,” ungkap Jumhur.

Penggemar warna biru muda ini juga menambahkan,  untuk meningkatkan kualitas diri,  profesi dan organisasi, ada beberapa program yang harus diaplikasikan. Dalam gerakan buruh, yang rutin dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan, sehingga bisa meningkatkan kualitas kepengurusan dalam organisasi. Studi banding juga harus dilakukan, supaya tahu bentuk-bentuk perjuangan yang efektif  untuk mencapai keberhasilan.  Sejauh ini, Moh. Jumhur Hidayat juga belum memikirkan untuk banting stir guna masuk ke dalam dunia politik.

(E-018)***