Musikus dan Sastrawan Fiersa Besari Miliki Talenta Berbeda Dengan Musisi lain

44

Dunia musik dan sastra Indonesia menjadi pilihan utama yang paling mencuri hatinya. Aktivitasnya bekerja di sebuah perusahaan swasta selepas masa kuliah,  ia memilih untuk menekuni dunia yang membawanya bertualang ke dimensi artistik dalam bentuk narasi dan lagu. Terjunnya sosok ini dalam dunia permusikan Indonesia khususnya bergenre pop-folk, berawal sejak ia duduk di bangku sekolah, dan semakin serius menekuninya sejak tahun 2011. Itulah sosok Fiersa Besari .

Ia bersama kawan-kawannya  membuat  terobosan, berupa sebuah project hibrida sastra-musik-visual yang mengajak pembaca berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, sekaligus telinga. Project ini bernama “Revolvere Project”, band sastra yang digawangi oleh Futih Aljihadi (seniman visual) Fahd Djibran (penulis), dan Fiersa Besari sendiri. Sementara , lagu-lagu yang sudah sempat ia rekam beberapa tahun lalu  dirilis dalam sebuah album bertajuk 11 – 11 (baca : seblas-seblas) secara independen pada tahun 2012. Album ini dalam beberapa bulan  ludes di pasaran.

Setahun pasca dirilisnya album perdana, pria yang akrab dipanggil Bung ini merilis album mini berjudul Tempat Aku Pulang. Setelah album mini ini disebarkan, Bung melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok Indonesia untuk merangkum inspirasi sekaligus mengasah kepekaannya dalam menulis. Tahun 2014,  kembali merilis ulang Tempat Aku Pulang dengan penambahan beberapa lagu,  hingga genap berjumlah 14 nomor yang dirilis dalam bentuk cakram padat dan format digital. Pada tahun 2015, Bung kembali merilis album  yang dikolaborasikan dengan buku berjudul Konspirasi alam Semesta , sehingga menjadi karya perdana Bung di dunia literasi, melalui single andalannya, “Juara Kedua”. nama Fiersa Besari semakin berkibar di ranah musik folk Indonesia , juga dunia sastra Indonesia. Ia  tidak berhenti untuk terus meluncurkan karya-karya terbaru, seperti sebuah buku lainnya yang ia rilis di tahun 2016 berjudul “Garis Waktu”. Buku ini merangkum kisah perjalanan Bung selama empat tahun dan berhasil terjual lebih dari 10.000 eksemplar. Karya  paling baru yang ia rilis ulan yakni album  11:11 yang dikemas dalam sebuah buku dengan judul yang sama. Pada akhirnya idealisme, konsistensi dan kematangan musikalitas Fiersa Besari membuatnya terseret ke kursi persidangan musik DCDC episode ke-31 dan harus mempertanggungjawabkan atas semua karya-karyanya. Pada hari Kamis malam, 21 Maret 2019 di Kantinnasion Rumah The Panas Dalam, Jalan Ambon No. 8A, Kota Bandung, Fiersa diadili dengan Jaksa Penuntut, Budi Dalton dan Pidi Baiq dengan pembela Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung.  Persidangan di pengadilan dipimpin dipimpin Hakim, Man (Jasad) , jalannya persidangan  diatur oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera.

Uwie Fitriyani selaku Perwakilan  ATAP Promotions mengatakan, persidangan episode ke-31 ini  sangat spesial, karena talent sebagai terdakwa yang dihadirkan merupakan permintaan warganet. “Antusiasme masyarakat atas persidangan cukup bagus. Terbukti saat kami mulai menjual tiket, hanya dalam waktu 10 menit, sudah full booked. Banyak yang dari luar kota, dan mereka booking online. Bahkan ada yang datang langsung dari Surabaya dan Bali.

Sementara , Dikki Dwi Saptono  Perwakilan dari DCDC menambahkan, bahwa Fiersa Besari menjadi musisi yang dipanggil ke Pengadilan Musik lantaran sosoknya yang cukup unik. Menurutnya, sosok Fiersa memiliki telenta yang tidak dimiliki oleh musisi lain. Sebab selain membuat lagu, Fiersa juga aktif menulis. Biasanya musisi bikin album. Tapi Fiersa bikin buku dan album. Itu yang bikin Fiersa Besari berbeda dengan  yang lain.

Para Coklat friends yang berjubel di Pengadilan Musik DCDC umumnya mereka fans dari terdakwa . Setelah menjawab sejumlah pertanyaan dari perangkat persidangan, akhirnya Fiersa dinyatakan lolos dengan karyanya dan harus menyebarluaskannya. (E- 009) ***