Dibutuhkan Tenaga Kerja yang Menguasai Teknologi

63

CUKUP banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri pada tingkat menengah . Mereka memiliki jabatan dan pendapatan yang cukup besar diukur dengan rata-rata pendapatan TKI pada jabatan yang sama di dalam negeri. Mereka yang disebut diaspora itu hidup di atas rata-rata orang Indonesia pada kelas yang sama. Karena itu para diaspora itu banyak yang enggan kembali ke Indonesia. Kebanyakan para diaspora itu pergi ke luar negeri secara mandiri, tidak melalui jalur pengiriman TKI Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi RI. Karena itu Kementerian tidak memiliki data lengkap tentang jumlah dan penempatan TKI mandiri itu.
Para TKI berbasis pengetahuan teknologi digital itu menjadi rebutan industri di luar negeri. Dalam era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, banyak sekali industri di dalam negeri juga membutuhkan tenaga kerja yang menguasai teknologi digital. Ketersediaan TKI domestik masih dianggap kurang. Penguasaan teknologi digita jebolan SMK masih belum cukup untuk bekerja di industri berbasis di­gital. Karena itu, banyak perusahaan , terutama industri yang dibangun dengan penanaman modal asing (PMA) yang justru melirik para diaspora itu. Mereka menguasai teknologi digital dan fasih berbahasa Inggris, Jepang, atau Korea. Para industriawan dalam negeri meminta para diaspofra segera kembali ke Tanah Air. Bagi mereka tersedia lapangan kerja dengan fasilitas dan upah tidak terlalu berbeda dengan fasilitas dan upah di luar negeri.
Terbukanya lapangan kerja bagi TKI berbekal kete­rampilan teknologi digital, makin mendesak kesempatan kerja bagi TKI sektor informal. Lapangan kerja pada industri padat karya makin berkurang akibat perubahan pola kerja dari manual ke digital. Akibatnya, pemerintah berusaha keras mendidik dan membekali TKI dengan keterampilan teknologio digital serta penguasaan bahasa asing. Pemerintah juga tetap berusaha mengirim TKI berketarampilan di sektor informal ke luar negeri. Namun persyaratan bagai TKI di beberapa negara juga semakin berat. Mereka me­minta TKI yang ditempatkan di hampir semua sektor harus memiliki sertifikat. Hanya TKI bersertifikatlah yang mudah mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Menjurut catatan BNP2TKI, penempatan pekerja migran Indonesia di luar negeri sampai Februari 2019, ada 18.623 orang. Yang bekerja di sektor formal.TKI yang nekerja di sektor nonformal 22.281 orang, seperti dimuat KOMPAS 9/4. TKI yang masih bekerja di luar negeri secara keseluruhan berjumlah 3,65 juta orang. Sedangkan tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia tercatat ada 94.000 orang. Para TKA itu bekerja di sektor formal pada perusahaan asing atau industri yang dijalankan berdasarkan modal asing (PMA), baik sebagai tenaga ahli, konsultan, maupun tenaga terampil pada bidang pekerjaan berteknologi digital.
Indonesia berharap, secara bertahap, penempatan TKA itu, segera tergantikan dengan TKI yang memiliki pengetahuan atau keterampilan yang sejajar dengan mereka.Pertukaran tenaga kerja antar-negara secara internasional itu sangat lumrah, apalagi pada era pasar terbuka. Namun karena Indobnesia memiliki angkatan kerja dan tenaga kerja sangat banyak, diharapkan sebagia besar terserap industri dalam negeri. Tanpa harus melakukan moratorium pengiriman TKI ke luar negeri dan menarik semua diaspora ke dalam negeri, kita ingin, lapangan pekerjaan di dalam negeri diisi sepenuhnya oleh TKI. Industri atau perusahaan asing atau bermodalkan PMA, wajib melakuikan alih teknologi sehingga para karyawan lokal memiliki keterampilan khusus teknologi digital.
Para diaspora yang ingin pulang ke Tanah Air, silakan,. ”Serkarang di Indonesia banyak industri yang membutuhkan tenaga Anda. Kalaupun tidak, transferlah keahlian Anda kepada TKI agar mereka dapat memasukj lapangan kerja yang mulai terbuka. ***