POLITIK IDENTITAS, MILLENIAL CERDAS

44

BICARA politik, tak sedikit orang yang menghindar. Fakta hari ini menunjukkan politik oleh sebagian besar orang dipandang sebagai sesuatuu yang kotor, picik, bahkan licik. Fenomena ini muncul karena perilaku politik dewasa ini yang tak sejalan lagi dengan hakikat politik yakni pintu untuk mencapai kebaikan bersama (Bonum Commune). Begitu banyak praktik tak sehat semisal KKN sarat dan bergelayutan di panggung politik. Kenyataan ini sungguh memuakkan.

Hari ini generasi milenial dituntut cerdas politik. Namun dalam pandangan sebagian besar mereka, politik tak ubahnya sarang para penyamun, koruptor, dan

sebagainya. Pandangan ini akhirnya memunculkan kecurigaan bahkan ketidaksukaan pada politik. Pada satu sisi, generasi milenial tak dapat disalahkan. tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan sampai kapan mereka harus acuh tak acuh pada politik? Bukankah dengan kekuatan idealisme orang muda, mereka mampu mengembalikan martabat politik. Layakkah generasi milenial berpolitik praktis di tengah sentimen golongan tua yang memandang mereka sebagai anak kemarin yang minim pengalaman. Politik itu kompleks.

Terlalu naif bila hanya dipersempit pada momen pemilu saja.

Akhir-akhir ini politik ditolak masuk kampus dengan alasan UU yang melarang politik masuk area pendidikan, Selain itu mahasiswa tidak boleh berpolitik praktis ini ditegaskan oleh Menristekdikti. Semestinya pemudalah yang harus berperan aktif dalam membuat perubahan yang lebih baik untuk bangsa, bahkan pemuda tidak boleh alergi untuk ikut terjun di rana politik, mengingat semua aspek kehidupan berbangsa tidak terlepas dari peran politik strategis.Negara ini berdemokrasi siapapun bebas melakukan aksi politiknya yang perlu dipahami setiap aksi ada konsekuensinya. pemuda dan politik praktis merupakan nuansa politik kekinian sebagai atmosfer negara berdemokrasi yg penting pilihan politik kita jangan sampai memecah persatuan kita sebagai pemuda yg mempunyai fungsi untuk mengisi kemerdekaan RI. banyak generasi millenial yang paham dengan pemilu. Mereka malah sangat koncen dengan demokrasi kita. sistem demokrasi era sekarang seperti mengalami kecacatan.

Demokrasi hanya sebagai alat untuk menggembungkan isi perut dan dompet atas nama rakyat, agama dll.

Pemerintah dan masyarakat itu saling bertalian, semua harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap kondisi perpolitikan Indonesia. Kita tidak sedang dalam lajur kiri atau kanan Kita sedang membangun jembatan kokoh untuk menghubungkan pemerintah dan masyarakat. memang integritas politik di Indonesia masih jauh dari kata sempurna, hingga tak asing lagi, jika kita mendapatkan paradigma yang selalu menganggap, politik itu adalah tata cara yang digunakan oleh oknum tertentu untuk memuaskan kepentingan pribadi dan menjadikan masyarakat sebagai suatu jalan hanya untuk memperoleh hasil.

Pemuda bersepakat bahwa generasi milenial harus berpolitik. Dengan asumsi bahwa politik untuk pengaturan yang ke arah yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan adalah haruskah

generasi milenial harus berpolitik praktis. Menurut hemat saya generasi milenial jangan takut untuk berpolitik dan mempromosikan idealismenya. Oleh karena itu dia harus merefleksikan politiknya dalam kehidupan sehari-hari,  melalui karya-karyanya yang di sumbangsihkan untuk negeri.Kedua, tentunya seorang generasi milenial harus punya tolok ukur dalam proses berpolitik. memahami untuk mencapai sebuah ending politik (kebaikan/kebangkitan) ada komponen yang harus dipenuhi dan tidak bisa dipisahkan yaitu. perasaan yang sama, pemikiran yang sama, dan peraturan yang sama

Jadi untuk mencapai sebuah kebaikan dalam sebuah masyarakat, tiga komponen ini harus diperhatikan. Tatkala masyarakat sudah satu perasaan, pemikiran dan peraturan kesenjangan yang terjadi seperti sekarang ini akan sirna dgn sendirinya. Poinnya adalah seorang milenial harus berpolitik untuk mewujudkan tiga komponen di atas melalui karya-karya. Untuk mencapai tiga komponen itu tidak harus dalam konsep keseragaman.

Tidak bisa dimungkiri,  Indonesia adalah negara yg multicultural. Kalau kita nengok sejarah…asas perjuangan adalah kesamaan rasa bahwa kita sedang ditindas  penjajah. timbullah kesadaran dari proses berpikir bahwa kita harus merdeka. Dirumuskanlah Pancasila dan dasar negara. Kemudian diikrarkanlah kemerdekaan. Revolusi karakter bukan berarti harus mengubah pola keteraturan berpikir secara biologis, pertaruhannya adalah homeostatis menakar persentase mengelola akal sadar.    Kemampuan pengelolaan ini bersumber dari keterbukaan,  membuka masalah tanpa harus menyuplai nutrisi pengendapan akal.

Fenomena saat ini akal terendapkan hanya karena menaikkan bilangan nilai prestise diri. Segala cara dilakukan dengan mendobrak pagar-pagar aturan yang telah ditata dengan rapi. Alhasil mereka yang katanya mewakili suara rakyat, hanya mewakili suara saja tanpa ada kematangan kerakter berintegritas. Ini tidak bisa didiamkan begitu saja, virus kedangkalan karakter akan menginfeksi generasi-generasi penerus pembangunan bangsa. Dikotomi jelas akan semakin terlihat karena perbedaan pola pikir, mereka yang baru datang mencicipi dunia perpolitikan kaget (bermimpi jatuh dari tempat tidur) kaget tanpa sebab. mengapa seperti ini quot " Dalam hati tersimpan teka-teki individu yang baru datang itu; Padahal individu ini menawarkan perubahan sistem yang lebih teratur dalam hal meregulasi karakter. Tidak hanya integritas yang diperlukan, sikap ngotot yang rasional perlu dipadukan mengusung kecerdasan yang tenang dan terarah. ***

 

 DWI ARIFIN

(GENERASI LITERASI TERBIT – IPB UNIVERSITY)