Proses Pembuatan Kain Songket Membutuhkan Waktu Dua Bulan Sampai Setahun

46

Perjalanan menuju Sumatera Barat , sesampainya di Bandara Internasional Minangkabau, saya melanjutkan prerjalanan menuju Kota Bukit Tinggi. Perjalanan dari Padang ke Bukit Tinggi di tempuh selama 2 jam menggunakan kendaraan roda empat. Ditengah  perjalanan, petugas pembawa rombongan menghentikan mobilnya dan mengajak untuk menikmati buah durian yang dikenal sangat enak. Menurut penjualnya rasa enak karena durian yang dijualnya karena matang di pohon.Perjalanan berlanjut melalui Lembah Anai, sebuah kawasan hutan lindung dengan daya tarik air terjun setinggi 40 meter. Daerah ini merupakan cagar alam dengan keanekaragaman flora fauna endemik Sumatera. Saya sempat menikmati pemandangan cantik air terjun yang terletak di pinggir jalan Padang – Bukit Tinggi untuk mengambil beberapa jepretan foto dengan latar belakang air terjun.

Dalam perjalanan menuju Bukit Tinggi,  melihat jajanan khas Minangkabau yaitu kue lemang serta minuman kopi kawa daun. Sekitar 10 kilometer sebelum sampai ke Kota Bukit Tinggi  , singgah di daerah Pandai Sikek yang merupakan pusat kerajinan kain tenun songket terbaik di Indonesia.  Proses pembuatan kain  tenunan kain songket di butuhkan waktu rata rata dua bulan, bahkan hingga setahun tergantung dari rumitnya motif yang harus dibuat. Dalam satu tenunan kain songket diperlukan sekira 6000 helai benang.Untuk menyusun benang benang bahan kain songket  diperlukan waktu satu bulan,oleh karena itu harga kain ini relatif mahal.

Di Bukit tinggi , kami mengunjungi goa peninggalan tentara Jepang yang menjadi salah satu destinasi wisata  favorit para pelancong ke kota Bukit Tinggi. Goa (lobang) Jepang merupakan bungker pertahanan yang dibangun jepang pada tahun 1942 yang digunakan  sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang. Panjang goa mencapai 1400 meter dengan lebar dua meter.Pada masa pembangunananya dikerahkan puluhan sampai ratusan ribu romusha dari Pulau Jawa,Kalimantan serta Sulawesi.Tempat ini mulai dikelola menjadi destinasi wisata pada tahun 1984. Di tengah dinginnya udara Kota Bukit Tinggi,saya mengunjungi Jam Gadang, ikon Kota Bukit Tinggi  yang memiliki tinggi 26 meter bergaya arsitektur Belanda yang dibangun oleh arsitek Minang bernama Yazin Sutan Gigi Ameh. Sejak dibangun tahun 1926 , Jam Gadang telah mengalami tiga kali perubahan bentuk atapnya. Jam ini berpenggerak mekanik merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada pemerintah Hindia Belanda, waktu itu pembangunannya menghabiskan biaya 3000 gulden.

Hujan gerimis menerpa kami saat menuju ke kawasan Kelok Sembilan, sekitar 30 kilometer sebelah timur Kota Payakumbuh. Jalan penghubung wilayah Provinsi Sumbar dan Riau merupakan bagian dari ruas jalan penghubung lintas tengah dan pantai timur Sumatera yang memiliki tikungan tajam,tanjakan dan turunan curam. Untuk mengatasi penumpukan kendaraan akibat kondisi jalan , tahun 2003 dibangun mega proyek fly over sepanjang 2500 meter membentang dan meliuk liuk menyusuri dua bukit terjal dengan tinggi beton bervariasi mencapai 58 meter. Mega proyek ini selesai tahun 2013 dan diresmikan  oleh presiden SBY.

Perjalanan disekitar Bukit Tinggi belum berakhir , destinasi selanjutnya mengunjungi Lembah Harau, sebuah Ngarai dekat Kota Payakumbuh Kabupaten 50 Kota. Topografi Lembah Harau berupa perbukitan cadas dengan ketinggian bervariasi antara 50 sampai 200 meter.Kawasan ini kerap dijuluki Yosemitenya Indonesia oleh para pecandu tarian anti gravitasi atau panjat tebing  favorit . Lembah Harau sejak tahun 1993 ditetapkan sebagai cagar alam dengan keunikan flora fauna endemik Sumatera.Pada salah satu sudutnya, terdapat air terjun dengan panorama cantik mempesona,dari atas tebing curahan airnya laksana kapas bergulung gulung menerpa kolam dibawahnya yang bisa dipakai berenang. (E-001) ***