Uni Eropa Pengimpor Terbesar Sawit Memicu Alih Fungsi Hutan Penyimpan Karbon

168

BISNIS BANDUNG – Pengamat Ekonomi-Perdagangan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, Ph.D menyebut Uni Eropa menjadi pengimpor minyak sawit terbesar asal Indonesia , setelah India. Penggunaannya  sebanyak 46% digunakan biodiesel kendaraan , 45% digunakan untuk sektor makanan, pakan ternak dan industri. Sedangkan sekira 9% sisanya digunakan untuk listrik dan pemanasan.Dikemukakan Yayan , berdasar data BPS ,  persentase ekspor minyak sawit ke Uni Eropa sejak tahun 2000 – 2015 didominasi oleh Belanda, Jerman, Italia dan Inggris. Jumlah ekspor  sawit terus meningkat dari 779,90 ribu ton pada tahun 2000 menjadi 1,443 ribu ton  pada tahun 2015.  Jumlah terbesar impor minyak sawit Uni Eropa terjadi pada tahun 2009 yang mencapai 1.825,80 ribu ton . Terakhir pada bulan Desember 2018, total ekspor minyak sawit Indonesia ke  Uni Eropa meningkat sebesar 2,265 ribu ton  dengan nilai ekspor  US$ 1.391 juta. Walau lebih rendah dibandingkan pada tahun 2017 yang mencapai 2.578 ribu ton dengan nilai impor sebesar US$ 1,840 juta. Dari sisi persentase  total ekspor sawit Indonesia meningkat.

Meningkatnya impor minyak sawit Uni Eropa dari Indonesia menurut Yayan , karena adanya kebijakan Uni Eropa Tahun 2009/28/EC (Directive 2009/28/EC) yang mengharuskan biofuels dapat mengganti bahan bakar fossil sebesar 20 dalam diversifikasi energi di Uni Eropa pada tahun 2020. ”Sedangkan biofuels  tidak  dihasilkan secara massif oleh Uni Eropa. Untuk memenuhinya Uni Eropa mengandalkan biodiesel berbasis minyak sawit daripada menggunakan sumber bahan bakar dari bunga matahari yang dihasilkan oleh petani di kawasan Uni Eropa,” ungkap Yayan, akhir pekan lalu kepada BB di Bandung .

Sejauh ini lanjut Yayan , biofuels berbasis minyak sawit merupakan teknologi generasi pertama (first generation) yang membutuhkan lahan paling efisien dan berbiaya paling murah, dibandingkan dengan sumber biofuels yang lain (berbahan dasar dari kedelai, gandum atau jagung ). Oleh sebab itu, biofuels dari minyak sawit tetap menjadi idola di  Uni Eropa untuk mengganti bahan bakar fossil. Walau, Uni Eropa sadar bahwa kebijakan tersebut memberikan dampak negatif (unintended consequences) di negara lain , seperti  di Indonesia penggundulan hutan Indonesia yang kemudian terjadi alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Hutan penyimpan karbon telah berubah menjadi lahan perkebunan sawit yang jadi pemicu terjadinya peningkatan karbon karena perubahan alih fungsi lahan tersebut.

Tetap menghapus

Lebih lanjut dikemukakan Yayan ,  secara kontekstual, tampaknya Uni Eropa akan menghapus (phase out) biofuels berbasis risiko alih fungsi lahan seperti minyak sawit sampai dengan tahun 2030. Uni Eropa mengklaim kebijakan tersebut telah sesuai dengan pasal XX pada GATT (General Agreement on Trade and Tariff). Pada pasal XX  disebutkan, bahwa aktivitas perdagangan international harus melindungi tumbuhan dan hewan serta konservasi dari produk sumber daya alam yang tidak terbarukan. Berdasarkan ini UE menegaskan , tidak ada perlakukan yang berbeda pada minyak sawit , selain tidak ada diskriminasi dalam perdagangan internasional.

Melihat implikasi itu menurut Yayan , pemerintah harus mempertimbangkan minyak sawit untuk konsumsi dalam negeri sebagai biofuels serta melakukan sertifikasi produksi kelapa sawit berkelanjutan sesuai dengan standar internasional secara terstruktur dan masif. Walaupun dalam jangka pendek, masih ada peluang bahwa minyak sawit masih dapat diterima oleh Uni Eropa,  karena minyak sawit adalah biofuels andalan yang dapat menggantikan fossil fuels sampai tahun 2030. Tetapi secara perlahan, sejalan dengan diberlakukannya moda transportasi bersumber  energi listrik , permintaan biofuels dari minyak sawit akan semakin menurun. Minyak sawit akan tetap diimpor , namun sebatas untuk kebutuhan industri makanan dan  kimia.

Dikemukakan Yayan , untuk menghindari kelebihan produksi akibat penurunan konsumsi minyak sawit UE sampai dengan tahun 2030 , ada hal yang harus dilakukan yakni menghentikan konsesi lahan sawit baru. Pengembangan industri kimia berbasis minyak sawit dan mengalihkan pasar Uni Eropa ke negara lain secara perlahan. ”Berdasar data Kementerian Pertanian, sebanyak 6 -12 juta orang bekerja di perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 2017 sedikitnya 1.779 perusahaan sawit tersebar di seluruh Indonesia . Perusahaan sawit terbesar terdapat Sumatera Utara sebanyak 336 perusahaan,  Kalimantan Barat  322 perusahaan dan di wilayah Provinsi Riau terdapat 200 perusahaan,”pungkas Yayan menambahkan. ( E-018)***